Untuk Hati Yang Terluka

pesawat kertas
Untuk hati yang terluka
Tenanglah, kau ‘tak sendiri
Untuk jiwa yang teriris
Tenang, ‘ku ‘kan temani
Hidup itu sandiwara
Yang nyata ternyata delusi
Terlarut posesi berujung kau gila sendiri
Jika kau tak dapatkan yang kau impikan
Bukan berarti kau telah usai
Untuk Hati yang Terluka – Isyana Sarasvati
Seorang nenek yang berusia 80+ bertanya kepada cucunya apakah dia sudah dapat kerja.
Cucunya yang masih dalam rasa kesedihan setelah beberapa hari yang lalu dinyatakan gagal dalam wawancara hanya tersenyum dan menjawab “belum nek”.

Halo, Selamat Malam!!!
Semoga kalian dalam keadaan yang menyenangkan. Tentu harus seperti itu, karena kita semua berhak bahagia bukan?

Disini saya mau menceritakan sedikit tentang pengalaman yang membuat saya down beberapa hari ini. Beberapa hari yang lalu keluarlah pengumuman hasil wawancara rekrutmen PLN setelah diadakan proses wawancara pada tanggal 23 Januari kemarin. Setelah disuruh 2 minggu menunggu saya berharap akan bertemu kembali dengan kenalan baru saya yang saya temui saat wawancara. Tapi ternyata hasilnya diluar dugaan. Setelah melewati tahapan administrasi, tes online, psikotes, tes fisik, dan tes labor kemudian wawancara. Langkah saya harus terhenti di wawancara dan tidak bisa melaju ke tanda tangan kontrak

Saat pengumuman tersebut keluar tangan saya dingin saat mendapat email dan notifikasi di website bahwa saya dinyatakan tidak lulus. Setidaknya ada 3 orang dari 30 orang wawancara yang tidak lolos seleksi. Ibaratnya dari 10 orang yang mengikuti tes, 9 orang lolos dan 1 yang tidak lolos adalah saya. Tentu sedih bahkan sangat sedih. Saya berusaha untuk tidak menampakkan kesedihan saya di depan orang tua saya walaupun mereka tahu saya sedih. Rencana yang telah saya susun bahkan mimpi saya sejak SMA untuk berkarir di PLN setelah impian saya masuk jurusan Teknik Elektro kandas sudah. Ya saya sudah membayangkan saya nanti kedepannya bagaimana. Rencana yang telah dipikirkan buyar sudah.

Kecewa? tentu saya sangat kecewa. Tapi saya kecewa kepada diri sendiri kenapa tidak memaksimalkan di tahapan yang peluang lulusnya besar dari tahapan sebelumnya dan ini merupakan tahap terakhir. Hal ini membuatku menjadi tidak PD lagi dalam hal komunikasi. Ya untuk informasi saja saya mempunyai masalah kepercayaan diri dan komunikasi di depan orang-orang, terkhususnya cewek dan itu sudah sejak sekolah dasar sampai berlanjut kuliah.

Saat ini saya memang hanya mendaftar di PLN saja sejak saya wisuda, kebetulan lokasi tesnya dekat di Palembang. Saat ini saya membantu menjaga dan mengurus toko milik keluarga di rumah. Bisa jadi ini menjadi pertanda bahwa saya belum saatnya merantau kembali dan dekat-dekat dengan keluarga dulu  di kampung halaman. Syukurnya saya masih bisa bekerja di rumah tapi ya kadang dianggap ga bekerja sama orang-orang hahah. Padahal saya memberi waktu dan tenaga saya loh untuk toko kami. Masa ga dihitung. Eh bukan PLN aja sih, masih ada CPNS. Saya ikut kedua itu. Lalu jika ditanya apa jika suatu saat PLN buka rekrutmen lagi apa saya akan ikut? Jawabannya TIDAK. Jika sudah ditolak ngapain coba lagi. Itu prinsipku, tiap orang beda-beda.

Yaudahlah, Cukup segitu aja.
Bye!

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *